“KENAPA lesu begitu?” tanya Salfa yang sedang merapikan buku-buku ke dalam tas. Ia menatapku bingung. “Kau sakit? Mau kuantar pulang?” tanyanya lagi. 
“Aku tidak apa-apa.” jawabku nyaris berbisik. Lalu, kutempelkan kening pada meja. Sejurus kemudian, sesuatu yang tersendat sedari tadi akhirnya meluncur. Aku menangis sampai bahu terguncang, gemetar, seperti menggigil. Ah, mood-ku seharian di sekolah terganggu. Pikiran mengenai Sam yang memberi Tara mawar itu tak sudi berhenti bergelayut di pikiranku.
“Kenapa kau menangis?” kata Salfa lagi.
“Tidak mungkin tidak ada apa-apa. Ceritalah padaku, apa yang sebenarnya sedang terjadi padamu, Risa?”
Aku menegakkan tubuh.
“Semua kekacauan ini berasal dari Tara. Dia bukan sahabatku lagi. Aku benci padanya, Salfa. Aku benci!” 
“Hei, pelan-pelan. Ceritakanlah padaku secara jelas.”
“Aku dengan Tara menjadi sahabat sejak memasuki kelas sebelas ini. Tapi, sekarang kami bukan sahabat lagi sejak ia membuat Sam tergila-gila padanya. Aku menyukai Sam, Salfa. Aku menyukainya selama enam bulan belakangan ini, sampai sekarang. Ini salah sasaran! Kau tahu, rasanya sakit melihat orang yang kusuka ternyata menyukai sahabatku sendiri. Sam menyukai Tara! Rasanya sakit ketika melihat Sam hanya tersenyum pada Tara, menatap pada Tara, membicarakan Tara.”
Aku menarik napas. “Rasanya sakit melihat mata Sam berbinar-binar mendengar nama Tara disebut. Harapanku pudar saat melihat Sam memberi Tara setangkai bunga mawar cantik. Salfa, ini benar-benar tidak adil! Aku tidak kuat jika terus-terusan menikam hati sendiri seperti ini. Nyeri. Aku juga tidak bisa melihat mereka bersama-sama, tidak bisa!”
            Salfa terperanjat. “Risa, jadi ini tentang cinta?”
            Aku menyeka pipi. “Apa kedengarannya konyol di telingamu?”
            “Tidak, bukan itu maksudku.” Salfa meremas pundakku. “Mm, boleh aku bertanya beberapa hal padamu?”
            “Apa?”
            “Kau bilang sudah menyukai Sam selama… berapa? Oh, ya, enam bulan. Beritahu aku, kenapa kau menyukainya?”
* * *
Enam bulan lalu. Salah satu stasiun radio lokal mengadakan acara di sekolah. Di halaman berumput, banyak orang berkumpul menyaksikan sesuatu yang menghibur. Beberapa orang guru bahkan rela keluar dari ruangannya. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka saksikan. Hanya dari kejauhan, aku mendengar suara musik yang sesekali disambut riuhan tepuk tangan. Karena suara tepuk tangan semakin meriah, dan alunan musik Barat semakin keras, kuseret kaki untuk ikut bergabung dengan mereka dan melihat apa yang terjadi.
Aku masih ingat, suasana hatiku sedang tidak baik saat itu. Niat awal aku memang ingin cepat pulang—tidak peduli dengan acara tersebut. Tapi, tiba-tiba sesuatu menahanku, bahkan lebih dari itu, suasana hati malah berbalik total. Senang. Aku merasakan sesuatu yang membuat senyum-senyum sendiri.
Lima orang laki-laki. Mereka melakukan tarian-tarian ajaib dengan lentur dan lincah, membuat siapapun yang melihatnya seolah menyaksikan para penari profesional tampil dalam konser yang dihadiri beribu-ribu penonton. Benar-benar profesional. Bukan bermaksud berlebihan memuji mereka, melainkan pengakuanku itu kupikir perlu disematkan. Lagipula, banyak pandangan takjub yang sama pada orang-orang di sekitarku waktu itu. Oh, entahlah. Apa aku sedemikian terpesonanya sampai-sampai berani berkata seperti itu?
Dari kelima laki-laki itu, ada satu yang menarik perhatianku. Perawakannya tinggi, berkulit putih dan berambut sedikit ikal. Dia menggerakkan seluruh anggota tubuh dengan sangat bertenanga. Membuat pandanganku tidak terlepas dari setiap gerak-geriknya sampai penampilan mereka selesai.
Dia membuatku kagum.
* * *
Salfa mengangguk paham setelah aku selesai bercerita. “Kau tersihir tariannya rupanya.”
            “Dia berbakat, membuatku kagum.” gumamku.
            “Apa ada hal lain yang membuatmu menyukainya?”
            Kedua alisku terpaut samar. Hal lain?
            “Kalau seandainya—seandainya, ya—Sam tidak bisa menari lagi? Apa kau akan tetap menyukainya?” kata Salfa lagi.
            Aku menyipit menatap Salfa. “Pertanyaan apa itu? Kau tahu, aku pikir Sam akan selalu bisa menari.”
            Salfa menghela napas. “Kan, sudah kubilang, seandainya, Risa. Seandainya saja.”
            Aku menggigit bibir, berusaha mencari jawaban yang bisa membuat Salfa terkesan. Tapi, akhirnya aku hanya berkata, “Ya, aku akan tetap menyukai Sam.”
            “Kenapa?”
            “Apa harus pakai alasan?”
            “Tentu saja.”
            “Kenapa harus?”
            “Supaya segala sesuatunya jelas.”
            “Segala sesuatu apa?”
            Salfa menghela napas lagi. “Segala sesuatu yang membuatmu menyukai Sam. Ketika kau tahu alasannya, kau juga akan tahu seperti apa jalan keluar untuk menghadapi persoalanmu yang seperti ini.”     
Aku mengernyit tidak mengerti. “Maksudmu?”
            Salfa mengatur posisi duduknya. Ia memiringkan kepala, lalu, “Apa kau mau sembuh?”
            “Sembuh? Memangnya aku sedang sakit?”
            “Bukankah memang sedang sakit? Hatimu?” Salfa nyengir.
            Aku hanya mengerjap-ngerjapkan mata.
            “Risa, maksudku adalah ketika kita menyukai seseorang, pasti ada alasannya, kan? Seperti dirimu. Kau menyukai Sam karena bakat yang dimilikinya, menari. Lalu, ketika kutanya kalau Sam tidak bisa menari lagi, kau jawab kau akan tetap menyukainya tanpa alasan.” Salfa berhenti sebentar, lalu, “Sekarang hatimu sedang kacau karena Sam, karena Tara. Kau tahu, aku tidak ingin melihatmu seperti ini terus. Untuk itu, jawab lagi pertanyaanku, apa kau mau sembuh?”
            Aku menatap Salfa yang sesungguhnya meminta tolong, berharap ia punya solusi yang tepat untuk mengatasi perasaanku ini. “Ya. Bagaimana caranya?”
            “Baiklah, akan kuulangi dulu pertanyaanku.” balas Salfa tenang. “Apa ada hal lain yang membuatmu menyukai Sam selain bakat menarinya?”
            Aku berpikir. “Mm… tidak ada.”
“Kalau seandainya—ingat! Seandainya saja—Sam tidak bisa menari lagi? Apa kau akan tetap menyukainya?”
Aku tidak seyakin pertama. Entahlah. “Aku tidak tahu.”
Salfa menatapku lembut. “Kau tahu apa artinya?”
“Apa?”
“Kau bukan menyukai Sam, tapi menyukai bakatnya. Itu tandanya, kau tidak benar-benar menyukai Sam, Risa.”
            Oh? Apa benar demikian? Seharusnya aku tidak begitu. “Memangnya ketika aku benar-benar menyukai Sam itu seperti apa?” Ah, aku merasa bodoh menanyakan perasaan sendiri pada orang lain.
            Salfa tersenyum simpul. “Saat kau mencintai seseorang karena Allah.”
“Mencintai seseorang karena Allah?” kataku mengulangi perkataan Salfa. “Yang seperti apa?”
“Seperti saat seorang ibu mencintai bayinya yang belum terlahir ke dunia, belum melihat wajahnya, tapi sudah cinta. Itu karena murni cinta pada Allah. Apa usaha terbaik yang dilakukan seorang ibu, dilakukannya. Terkait hasil, ia pasrah pada Allah.”
Aku melongo.
Salfa memiringkan kepalanya. “Apa kau paham maksudku?”
Aku nyengir. “Tidak. Bisa kau beri contoh dari kasusku saja?”
Salfa tertawa. “Baiklah, tidak masalah. Tanda kau mencintai Sam karena Allah adalah saat kebaikan dan kehebatan yang ada pada dirinya mendekatkan dan mengingatkanmu pada-Nya. Karena, kehebatan seseorang itu adalah rahmat Allah yang diberikan melalui hamba-Nya.”
Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Mencintai seseorang karena Allah?
                “Berhentilah meratapi diri sendiri.”
            Aku mengernyit.
            “Kau tahu, tentang cinta,” kata Salfa dengan nada keibuan. “kau harus seperti Fatimah yang tidak membesarkan masalah perasaan sebelum waktunya tiba. Kau harus menutupinya rapat-rapat, agar cintamu tertuju lurus hanya pada Allah. Kau tahu, setan itu tidak pernah tahu isi perasaan Fatimah. Hebat, bukan?”
            Aku melongo. Apa katanya? Setan tidak pernah tahu isi perasaan Fatimah?
            “Namun, lihat, ia akhirnya dijodohkan dengan Ali yang sama-sama menjaga cintanya.” Salfa menepuk-nepuk bahuku. “Hoah, Risa, cerita cinta mana lagi yang lebih romantis dari ini?!”

Cerpenis: Fitri Rahayu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here