“I lay my hands back down, and I pray to be only yours. I pray. But, I know now, you’re my only hope.”

   Mandy Moore

“SAM! Ryanu Sam, tunggu!”
            Aku mengangkat kepala. Meski bukan namaku yang disebut, tapi mendengar nama barusan selalu membuat hati berdesir. Orang yang baru saja berteriak itu berlari mengejar Sam. Sementara, yang diteriaki langsung menoleh ke belakang sambil memperlambat langkah. Tepat pada saat itu, pandangan kami bertemu selama satu detik, karena aku sedang berjalan di belakangnya. Dalam hati, aku girang bukan main. Namun, sejurus kemudian, aku ingat untuk tidak memperbesar hal sepele macam ini. Ah, hanya saling bertatap selama satu detik (baca: satu detik) apanya yang penting?
            Laki-laki itu kini berjalan beriringan dengan orang yang barusan memanggil namanya. Posisiku berada dua meter dari mereka. Kutatap punggungnya, lalu cepat-cepat menggelengkan kepala.
“Sudah, jangan menatap Sam terus, Risa!” bisikku dalam hati.
Baiklah.
Aku benar-benar tidak menatap lagi ketika sampai di ruang kelas, tapi sebelum masuk, aku tidak tahan untuk tidak melihat punggungnya sekali lagi.
Oh, dear.
Ada apa denganku?
Apa aku sedang menyukai seseorang? Ketika mengingat laki-laki itu, aku selalu senyum-senyum sendiri. Apa itu berarti aku menyukai Sam? Asal kau tahu, ya, aku sendiri belum pernah mendeklarasikan bahwa aku menyukainya. Aku juga tidak pernah bilang pada siapapun mengenai Sam di mataku, bahkan pada sahabat tempat curhatku sendiri.
Oh, entahlah. Tapi, ketika melihat Sam, jantungku selalu berdetak dua kali lebih cepat. Apa itu pertanda kalau aku menyukainya? Atau ketika berpapasan, dan tak sengaja saling berpandangan meski hanya satu detik seperti tadi, aku merasa ingin loncat-loncat karena kegirangan. Apa itu pertanda kalau aku sedang salah tingkah?
Hei, aku dan Sam ini bagai langit dan bumi! Terbentang sangat jauh untuk sekedar mendekat. Jadi, aku bisa apa?
Kau tahu, memikirkan semua ini, memikirkan ia yang tidak melihat ketika aku melihatnya, membuatku teringat satu lagu. Lagu yang akan-sangat-pasti cocok jika aku menjadi bintang utama video musiknya. Bah! Lirik lagunya begini,
I look at you, you look at me
I look away, so you can’t see
I am dreaming of you and you don’t ever know
You don’t ever know
That I am falling madly in love with you, with you
And I wish that you were going crazy for me too
And I sit alone in the darkest night
My heart is pounding and I wonder why
Why am I invisible?
Why can’t you see?
I am in love with you
Are you in love with me?
Possibility, Tiffany Alvord
            Begitulah.
            Aku jadi bertanya-tanya, kenapa aku tidak terlihat di matanya?
            Kenapa ia tidak melihatku?
Terkadang, aku ingin meminjam matanya. Aku ingin melihat siapa aku di sudut pandangnya Siapa kami di matanya?
Ah, namun aku terlalu malang untuk meneruskan perasaan ini. Mengingat dia yang tidak pernah melihatku, mengingat dia yang hanya tersenyum bukan padaku, apa yang aku harapkan? Apa yang sebenarnya aku harapkan? Semua ini semakin membuatku sadar bahwa aku tidak akan pernah menjangkaunya. Ia terlalu sempurna untukku. Sepertinya, aku cukup menyimpan semua ini rapat-rapat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here