Berbagi Optimis – Manusia adalah koin. Berharga. Mempunyai dua sisi; di satu sisi … hina, karena pada hakikatnya manusia berasal dari sebuah percikan yang diperjalankan melewati dua lubang tempat mengeluarkan air seni; hal ini agar menjadi cermin agar tidak sombong, bukan sebagai alasan untuk mengeluh. Di sisi yang lain … suci, sebab ketika percikan itu menjadi seonggok tulang yang dibungkus daging dan kulit, serta ditiupkan ruh ke dalamnya, maka jabang itu adalah sebersih-bersihnya makhluk. Fitrah. Suci.

Namun seringkali kesucian itu terhijabi oleh tirai-tirai kebodohan. Bodoh karena tidak mengenal diri sendiri. Betapa banyak yang hari ini menyematkan identitas salah pada dirinya?

Sangat berbahaya bila kita memakai identitas yang salah. Sebab identitas akan menentukan bagaimana cara berpikir, bersikap, bahkan sampai pun pada bagaimana cara kita merasa.

Kita mungkin pernah, suatu masa ketika kecil, memakai pakaian bergambar superman lengkap dengan jubahnya. Lalu kita merasa menjadi superman beneran; mengepalkan tangan sebelah lalu berlari sembari membungkuk. Kita anggap … kita terbang, padahal hanya berlari.

Atau teman-teman perempuan pernah memakai gaun ulang tahun, lengkap dengan tongkat yang ujungnya berbentuk bintang. Kalau dipijit tombol di tongkatnya, bintang itu berpendar. Lalu kamu merasa menjadi princess, atau peri.

Itulah identitas. Mempengaruhi perilaku kita sejak dari hati.

Orang yang berperilaku positif, tidak lain dan tidak bukan adalah karena dia menyematkan identitas terbaik pada dirinya; “Saya hebat, saya kuat, saya bisa, saya pasti bisa!” tetapi sebaliknya, orang yang menyematkan identitas negatif akan berpikir negatif juga. “Ah, da aku mah apa atuh cuma bulu ketiak yang terhimpit.”

Meskipun memang, beberapa orang mengatakan demikian (bulu ketiak yang terhimpit) untuk memotivasi orang lain, memberi tahu bahwa, “Aku saja yang begini, punya pencapaian berlimpah, masa kamu enggak?” atau merendah; ilmu padi.

But it’s not the point.

Poin penting yang ingin saya bicarakan di sini adalah orang-orang yang SEJAK dari pikirannya negatif, sehingga membuat efek domino pada motoriknya. Maksudnya berawal dari pikiran negatif, hingga berakhir di tindakan negatif juga.

Barangkali mata sudah bosan melihat keluhan-keluhan orang lain, sehingga merasa perlu untuk menuliskan ini besar-besar.

Kamu terlalu suci untuk mengeluh!

Iya. Manusia diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna. Mata di letakan di sana untuk melihat masa depan, bukan untuk terjebak bayangan masa lalu; telinga di tempatkan di sana untuk mendengar dua hal berbeda agar bijak; begitu pun mulut, hidung, kepala, dll. Semua di takdirkan di tempatnya sekarang karena suatu alasan suci dan berhikmah.

Organ-organ berhikmah tersebut kemudian menyatu dan menjadi kita, berapa banyak hikmah dari penciptaan kita ini? Apakah sudah pernah menghitungnya walau sedikit?

Identitas Manusia dari Tuhan

1. Terlahir Suci


Manusia yang paling mulia itu (saw.) pernah bersabda,

Kullu mauludin yuuladu ‘alal fithrah …; setiap manusia yang lahir, lahir di atas fitrah.

Cukup. Jangan ada lagi alibi yang menjadi tandingan sebuah hadits. Redaksinya jelas, kita ini fitrah, suci, membawa potensi kebaikan. Maka ketika hari ini banyak keburukan dalam diri kita, patutkah kita menyalahkan orang lain?
Beruntung kalau kamu baca tulisan ini. Berubahlah dari sekarang.

2. Tercipta dengan Bentuk yang Paling Sempurna

Kita sempurna, bahkan dari armor iron man sekali pun.
Tuhan yang Esa berfirman,

Laqad khalaqnal insana fii ahsanittakwim; Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Hal yang menjadi kentara perbedaannya antara kita dan makhluk lainn adalah akal. Maka sebagaimana difirmankan, seperti itu pulalah kemudian kita harus menjadi manusia. Sempurna. Merasa Sempurna.

3. Disumpah Mulia Sejak Dahulu


Tuhan yang Maha Santun berfirman,

Wa laqad karramnaa banii ‘adam; dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.

Maka tidakkah kita berpikir 1000 kali ketika ingin mengeluhkan sesuatu? Apalagi mengumbarnya ke media sosial seperti status kita kemarin?

Mari memeriksa kembali hati.

Aku Ayam bukan Elang!

Terakhir, saya ada kisah sebagai sebuah renungan. Tentang makhluk yang salah menyematkan identitas pada dirinya.
Dikisahkan ada seekor ibu elang di sebuah ranting pohon dengan awas memperhatikan telur-telurnya di pohon yang lain. Lantaran sedang ngidam ikan salmon, ibu elang melonggarkan sedikit waktunya untuk memuaskan keinginannya itu.

Ketika ibu elang itu pergi, angin besar menabrak pohon yang menopang sarang elang. Sehingga satu telur jatuh ke tanah, tapi tidak pecah.

Apes. Elang bukan manusia. Dia tidak mempunyai akal apalagi kemampuan berhitung. Dia tidak sadar kalau telurnya berkurang satu.
Singkat cerita, telur itu menetas bertepatan ketika ibu ayam sedang melintas. Sepeti di film-film kartun, siapa yang dilihat pertama kali ketika seekor hewan lahir, maka dia akan dianggap sebagai ibunya. (korban Tom & Jerry)
Maka tidak berbeda dengan kisah bayi elang ini. Dia menganggap ibu ayam sebagai ibu kandungnya (apa ibu telur?). Alhasil, hari-harinya kemudian diurus oleh seekor ayam.
Semakin hari bayi elang semakin bertumbuh. Karena memang ditakdirkan berbadan lebih besar, lebih kuat, lebih perkasa dari ayam … berparuh lebih besar dan kuat, cakarnya lebih tajam dan runcing; dia merasa aneh melihat saudara-saudara ayamnya yang berbadan kecil. Hingga pada suatu ketika pikirannya sampai pada sebuah pertanyaan, “Apa aku ayam?”
Pertanyaan itu terus saja menggerayangi seiring dengan bertambah bidang tubuhnya, semakin lebar sayapnya, dan lantang menjadi-jadi suaranya. Beda dengan ayam.

Sampailah mereka pada sebuah wisata, keluarga ayam dan seekor ayam-ayaman berlibur ke tebing yang indah, wisata kuliner, dll. Di sana, sejauh mata memandang pohon-pohon hijau menari. Sebagian angin, genit mencolek sayap sang elang, membuantnya membuka dengan lebar.
“Apa aku … ayam?”
“Apa … aku ayam?”
“Aku … ayam?”
Pikiran sang elang mengambil alih dirinya, ia kemudian menghentak-hentakkan cakarnya ke tanah lalu berlari dengan kencang. Dia pikir dia bisa terbang. Tapi … sesaat sebelum elang itu melompat terbang, ibu ayam berteriak, “Jangaaaaannn!”
Lalu sang elang berhenti; tidak jadi mengepakkan sayap. Itu adalah saat pertama dan terakhirnya merasa diri menjadi elang; identitas asli yang diberikan Tuhan padanya.
Akhirnya, sampai sakaratul maut, KTP si elang tetap ayam. Ayam. Ayam yang tidak bisa terbang.
***
Nah, apakah kita tidak mengambil pelajaran?
Siapa kamu? Apa identitasmu?
Seperti apa harusnya perilakumu?
Jadilah manusia yang sempurna, yakni manusia yang hari esoknya lebih baik daripada hari ini.

Itu.

*Catatan untuk pribadi
(Muhamad Mulkan Fauzi/Berbagi Optimis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here