Menjalani kehidupan itu menarik. Ada bahagia, ada sedih, ada lapang, ada sempit, dan berbagai hal kita rasakan. Memang, bukan hal yang mudah untuk beradaptasi dengan semua keadaan itu. Tapi, begitulah memang yang akhirnya membuat lukisan Mona Lisa yang dibuat pada abad ke-16 oleh Leonardo da Vinci di atas kayu poplar menjadi estetis untuk dilirik. Ataupun, lukisan-lukisan realis karya Alfredo Rodrigus -misalnya- yang dibangun dengan gradasi warna yang sangat kompleks. Ya, intinya, semua dihias dengan beragam jenis warna, bahkan, beragam jenis bahan pewarna.

Begitupun akhirnya kita melihat kehidupan yang kita jalani. Dengan berbagai macam dinamika, setidaknya hal itu menjadi satu hal mengapa otak kita diberikan kemampuan untuk mengingat. Bukankah hal yang akhirnya berada dalam long-term memories adalah hal-hal yang unik dan berbeda dibandingkan dengan yang lain? Semakin rumit kehidupan, memang di sisi lain bikin bete, tapi, akhirnya itulah yang dinamakan proses. Proses pembentukan kita menjadi seseorang.

Pertanyaannya adalah, apakah kita ingin berproses seperti itu? Mau tidak mau, semua itu akan kita rasakan. Lalu pilihan kita? Menikmati atau akhirnya membiarkan semuanya hambar saja. Mencoba membuat tolakan terhadap semua dinamika hidup malah akan membuat kita semakin tertekan. Padahal, cukup siapkan saja papan selanjar saja untuk menghadapi ombaknya. Nikmati semuanya, maka suatu saat akan kita rasakan nikmatnya. Bukankah kopi pahit, masih bisa menjadi hobi dan dinikmati?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here