Berbagi Optimis – “Mereka menertawaiku sebab aku berbeda. Justru aku balik menertawakan, karena ternyata mereka semua sama.” ucap Kurt Cobain, vokalis band aliran grunge Nirvana.

Kita patut untuk curiga ketika banyak orang yang tidak mengerti jalan pemikiran kita; barangkali kita pembawa perubahan? Seperti yang dilakukan Kurt Cobain dengan lagu Smells Like Teen Spirit, yang menjadi penanda beralihnya satu zaman ke zaman yang lain di dunia musik; dari dance-pop, arena rock, dan glam metal ke grunge dan rock alternatif. Mohandas Karamchand Gandhi (Mahatma Gandhi), yang senantiasa membalas tindak jajah kolonial Britania Raya di negaranya dengan demonstrasi damai, hingga merdeka dari kekangan mereka. Atau–lagi-lagi manusia termulia, Muhammad saw. yang kita semua telah tahu rangkaian ketercelaan yang menimpa dirinya ketika ia menawarkan sesuatu yang baru pada kaumnya saat itu, tetapi kemudian menjadi jalan cahaya bagi seluruh manusia.

Penolakan dan ketakmengertian adalah fana. Sebab seringkali waktu yang membuktikan bahwa keanehan masa lalu menjadi realita di masa mendatang. Katakanlah pesawat terbang. Siapa sangka seonggok besi dengan massa jenis yang dipastikan lebih besar daripada udara bisa melayang-layang, bahkan melaju dengan cepatnya tanpa hambatan? Mungkin dahulu kala, saat Abbas ibn Firnas the first aviator berpikir tentang bagaimana cara ‘manusia bisa terbang’ banyak alis yang naik sebelah tanda keheranan, tapi sekarang berapa model pesawat terbang yang ada? Silakan hitung.

Nur Agis Aulia, lulus dengan predikat cumlaude dari salah satu kampus terbaik Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM), jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, menolak tawaran menjadi karyawan BUMN; memilih jadi petani yang hari ini dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Orang tuanya tidak menyetujui, rekan-rekannya menyayangkan, dan kita … mungkin juga berpikiran “Sayang banget. Nolak kerja di BUMN, tapi milih jadi petani.”

Tapi belakangan, beliau muncul di acara Kick Andy. Dia membuktikan bahwa jalan pikirannya tidaklah salah. Memamngnya apa yang lebih membahagiakan dari memberi kebermanfaatan? Atau menawarkan perubahan? Mungkin pesan yang ingin disampaikan Nur Agis Aulia ini adalah: Jangan malu untuk berbeda.

Akhirnya, Nur Agis Aulia menjadi aktivis lingkungan dalam bingkai Banten Bangun Desa. Mulia sekali. Orang tuanya berbalik bangga, rekan-rekannya berubah mendukung, dan masyarakat luas banyak mengapresiasi pilihannya.

Jangan takut berbeda. Barangkali mimpimu terlalu mulia untuk diwujudkan dengan jalan yang biasa-biasa saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here