Berbagi Optimis – Memuliakan tamu adalah adab yang mulia, diisyaratkan dari seorang manusia terbaik yang pernah berjalan di muka bumi 1400 tahun lalu. Adalah hak bagi setiap tamu mendapatkan penjamuan yang maksimal dari tuan rumah, tetapi seringkali tamu tidak mendapatkan penjamuan terbaik itu. Alasannya beragam; baik dan buruk; memang tidak ada dan pelit.

Sebagai tamu, alangkah baik bila tetap bersikap santun dan memuji tuan rumah dalam segala kekurangannya, sebab mereka lebih tahu aib yang ada di rumah itu.

Dicontohkan oleh alm. KH. AR. Fachrudin, mantan ketua PP Muhammadiyah, ketika beliau berkunjung ke rumah salah satu pengurus cabang ormas yang dipimpinnya di Purwodadi. Letih, capek, lapar, dahaga, semua bercampur dalam diri belau setelah melaju dalam perjalanan yang cukup panjang. Pengurus cabang itu kemudian menyuguhi KH. AR Fachrudin dengan segelas teh manis yang terbayang dapat menyembuhkan dahaga; menyegarkan. Namun ternyata, teh manis itu kurang tertabur gula, sehingga rasanya hambar. Maka tuan rumah meminta maaf, “Maaf, Pak AR., air tehnya kurang manis.”

“Alhamdulillah, saya bersyukur air tehnya kurang manis; sebab kalau terlalu manis, kata dokter, bisa menyebabkan diabetes.” jawab KH. AR. Fachrudin santun.

Sebakda menyampaikan maksud silaturahim dan beristirahat sejenak, adzan maghrib berkumandang. Mereka semua shalat berjamaah di Masjid. Kemudian, tuan rumah mengajak Pak AR. menyantap jamuan makan sayur yang telah disediakan. Celakanya, ternyata sayur itu kurang garam; tuan rumah kembali meminta maaf, “Maaf, Pak AR., sayurnya kurang gurih.”

“Alhamdulillah, saya bersyukur sayur ini tidak asin; sebab kalau terlalu asin, kata dokter, bisa menyebabkan hipertensi.” jawab beliau kembali.

Malam harinya diadakan pengajian sampai larut. Acaranya cukup meriah. Pak AR. tua merasa sudah memaksimalkan geraknya di hari itu, jadi beliau langsung meminta untuk rehat. Diceritakan bahwa ternyata di kamar yang tersisa itu tidak ada ranjangnya, pun cahaya lampunya temaram. Melihat situasi ini, tuan rumah merasa malu, hatinya sekali lagi memuntahkan permintaan maaf.

“Alhamdulillah, saya bersyukur tidur di atas lantai. Kalau di atas ranjang, tubuh gempalku ini bisa kerepotan; pun jika tidur di lantai, saya tidak akan jatuh. Lampu temaram ini juga dapat membuat saya tidur lebih cepat. Terimakasih.”

Begitulah. Bila kita bisa memandang segala sesuatunya dari kacamata orang yang tidak bisa makan, maka makanan setawar apa pun, akan terasa gurih, pun tempat tak beranjang akan serasa nyaman dan membantu lelap lebih nikmat. Terlebih dari itu, merasa senantiasa berkecukupan adalah arti dari kaya yang sesungguhnya. Santun dalam kekurangan. Pada Tuhan, pada manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here