Berbagi Optimis – Mengenal diri sendiri tidak akan pernah ada kata selesai. Sebab manusia itu dinamis dalam segala maknanya; kita hari ini belum tentu sama dengan kita di esok hari, jangankan tenggang satu hari, kadang-kadang bilangan jam saja kita sudah berubah menjadi seseorang yang lain.

Mengenal diri sendiri berarti juga mulai merangkul keburukan-keburukan kita untuk kemudian dimaklumi, juga mengawasi kelebihan-kelebihan kita untuk kemudian disyukuri, bukan diagulkan; terlebih dalam, mengenal diri sendiri berarti belajar meracik obat penawar, sehingga kenegatifan-kenegatifan yang menyerang kita dari luar dapat kita alih-sifatkan menjadi positif dengan racikan yang sudah kita persiapkan di dalam.

Salah satu obat penawar itu adalah memprediksi perasaan. Dengan mengetahui kemungkinan-kemungkinan perasaan yang akan muncul ketika kenegatifan datang, kita bisa memersiapkan mekanisme psikis diri kita untuk menghadapi hal itu tanpa harus ada adegan tambahan yang memilukan.

Misalnya dalam menghadapi SNMPTN atau SBMPTN; perlu bagi kita untuk bersiap-siap membentengi diri dari kegagalan atau bahkan mempersiapkan tali pengikat ketika kita berhasil. Kenapa? Agar saat gagal tidak ada sesal, saat berhasil tidak ada yang tersakiti.

Namun ada satu sindrom bernama Immune Neglect, di mana kita hanya berdaya tahan tinggi menangkis kenegatifan-kenegatifan besar, tetapi rentan terhadap iritasi-iritasi kecil. Misalkan kita tidak pernah berlarut dalam sedih ketika tidak lulus ujian, tetapi gusar tidak alang kepalang mengetahui chat BBM kita hanya di read saja.

Secara jelas Immune Neglect adalah kondisi di mana kita–sering- dapat bertahan dari kejadian negatif besar, karena telah mengantisipasinya degan prediksi lalu mengaktifkan mekanisme pertahanan psikis ketika hal itu terjadi; tapi sering terganggu oleh iritasi kecil, di mana untuk kejadian itu kita tidak mengaktifkan mekanisme pertahanan kita–karena boleh jadi kita terlalu berfokus pada kejadian negatif besar.

Ketidakakuratan dalam memprediksi adalah manusiawi, tetapi setidaknya kita punya beberapa opsi obat penawar yang akan disuntikkan ketika kenegatifan terjadi, agar kita bisa stay positif; memandang segala sesuatu dari kacamata hikmah.

Kita juga sering tidak akurat memprediksi besar dan lama perasaan yang menyelimuti hati pasca suatu kejadian. Itulah kenapa pentingnya tali pengikat, supaya tidak berlebih-lebihan dalam sesuatu. Sulit untuk memprediksi intensitas dan durasi emosi yang kita rasakan di masa kelak. Misalnya, kita memprediksi hasil pertandingan dua hari yang akan datang dan kemungkinan-kemungkinan perasaan yang akan muncul. Pasca pertandingan, hasil yang muncul adalah: menang dan perasaan yang timbul adalah kebahagiaan.

Kita sering merasa bahwa kebahagiaan itu akan awet dalam dimensi waktu. Selalu begitu. Tapi berdasarkan kajian yang telah dilakukan, ternyata tidak. Perasaan bahagia itu akan menguap lebih cepat dari prediksi kita. Ini karena kita rentan terhadap impact bias, yaitu menaksir berlebihan terhadap lamanya efek emosi yang dirasakan pasca kejadian.

Maka, ini hanya membuktikan bahwa kita hanya manusia perencana, Tuhan adalah penentu segalanya. Kesedihan dan kebahagiaan adalah soal ujian yang harus dijawab sebijak-bijaknya. Agar sedih tak berlarut dan kebahagiaan tak menyakiti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here