SMA Negeri 4 Pekalongan Ubah Sisa Makanan Bergizi Jadi Pupuk Organik
Sekolah di Pekalongan mengolah limbah program Makan Bergizi Gratis menjadi pupuk organik cair, sekaligus mengajarkan siswa tentang pengelolaan sampah dan urban farming.
Admin Portal
Inovasi Pengelolaan Sampah Organik di Sekolah
SMA Negeri 4 Kota Pekalongan tidak membuang sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebaliknya, limbah tersebut diubah menjadi pupuk organik cair (POC) dalam kegiatan pembelajaran yang bernilai edukatif.
Inisiatif ini menjadi medium bagi siswa untuk mendalami pentingnya pengelolaan sampah dan mengasah kemampuan urban farming. Setiap hari, sisa makanan berupa nasi, sayuran, dan buah-buahan dikumpulkan dari kelas-kelas yang telah ditentukan, khususnya kelas XI.
Perspektif Siswa tentang Keberlanjutan Lingkungan
Viny Naila Mazaya, siswa kelas XI, melihat perubahan penting dalam cara pandangnya terhadap limbah. "Sisa makanan yang sebelumnya kerap dibuang, kini berpeluang memberikan manfaat baru bagi lingkungan," ujarnya.
Menurut Viny, pengumpulan sampah organik dilakukan setiap hari dengan rencana pembuatan pupuk berkala sekitar satu kali seminggu. Dia berharap produk yang dihasilkan dapat mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal.
Strategi Produksi Pupuk Berkelanjutan
Dhony Hermawan, guru Pendidikan Kewirausahaan SMA Negeri 4 Kota Pekalongan, menjelaskan bahwa pemanfaatan limbah MBG merupakan pengembangan dari upaya sebelumnya. "Karena bahan yang digunakan diharapkan berasal dari lingkungan sekolah, kami memanfaatkan sampah sisa MBG. Nantinya, sisa makanan akan dikumpulkan dari kelas-kelas yang telah ditentukan, kemudian diolah menjadi pupuk," kata Dhony.
Sebelumnya, sekolah telah mencoba membuat pupuk organik cair dengan bahan eksternal, seperti kulit bawang merah. Sekolah juga telah melakukan pengomposan daun kering dan batang pisang untuk menghasilkan pupuk.
Aplikasi Praktis di Lingkungan Sekolah
Pupuk hasil pengolahan MBG akan digunakan untuk tanaman sayuran yang ditanam siswa dan pohon-pohon di lingkungan sekolah. Dhony mengharapkan siswa mampu menguasai setiap tahap, mulai dari pengolahan tanah, pemupukan, hingga perawatan tanaman menggunakan bahan organik.
"Harapannya, siswa bisa belajar memanfaatkan bahan-bahan organik dari tahap awal pengolahan tanah hingga akhir," ungkapnya lebih lanjut.
Tentang penulis
Admin Portal
Administrator di Berbagi Optimis. Setiap tulisan ditinjau redaksi sebelum terbit.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti saran profesional. Untuk masalah kesehatan mental, medis, atau keuangan, konsultasikan dengan tenaga ahli yang kompeten.